Fase Pengembangan Diri

PENGEMBANGAN DIRI

Fase pengembangan diri sesungguhnya merupakan tujuan yang diharapkan dari proses pengenalan diri. Pengembangan diri itu sendiri merupakan proses pertumbuhan yang terjadi secara terus-menerus, berkembang dan selalu berada dalam kemantapan hati demi suatu perbaikan, pengoptimalan potensi-potensi yang dimiliki dan usaha meminimalkan kekurangan-kekurangan yang ada.

Pengembangan diri juga merupakan suatu usaha individu untuk memenuhi kebutuhan aktualisasi diri. Kebutuhan aktualisasi diri itu sendiri merupakan kebutuhan puncak/ tertinggi (meta needs) diantara kebutuhan-kebutuhan manusia menurut versi Abraham Maslow. Kebutuhan-kebutuhan dibawahnya adalah fisiologis (dasar) (physiological needs), kebutuhan akan rasa aman (safety needs), kebutuhan akan kasih sayang (love and belonging needs), dan kebutuhan akan harga diri (self esteem needs).

Sedangkan versi Mc Clelland, pengembangan diri bisa dikategorikan pada usaha pemenuhan kebutuhan untuk berprestasi (dikenal dengan n’Ach – need for achievement). Prestasi disini adalah dalam pengertian luas, tidak sekedar dibatasi lingkup akademis (seperti nilai, Indeks Prestasi), namun juga termasuk prestasi-prestasi dalam bentuk lain yang memberikan kontribusi positif bagi individu yang bersangkutan maupun bagi masyarakat luas. Dengan kata lain, individu yang senantiasa melakukan pengembangan diri akan senantiasa dimotivasi oleh keinginannya untuk mencetak prestasi-prestasi baru. Dengan demikian individu tersebut juga senantiasa berada pada posisi pengaktualisasian-pengaktualisasian diri yang tidak sekedar to be or not to be, tetapi becoming or unbecoming. Melalui pemuasan kebutuhan aktualisasi diri, keberadaan manusia tidak pernah menjadi suatu kondisi yang tetap, tetapi menjadi sesuatu yang selalu berkembang.

Sementara itu, terdapat 15 ciri-ciri individu yang dikatakan sebagai pengaktualisasi diri, yaitu :

  1. Mengamati realitas (kejadian-kejadian & pengalaman hidup) secara konsisten
  2. Penerimaan umum terhadap kodrat, orang-orang lain dan diri sendiri
  3. Spontanitas, kesederhanaan, wajar
  4. Fokus pada masalah-masalah diluar diri mereka
  5. Kebutuhan akan privasi (ruang untuk diri sendiri) dan independensi (kemandirian)
  6. Berfungsi secara otonom
  7. Apresiasi yang senantiasa segar (selalu intropeksi diri)
  8. Pengalaman-pengalaman puncak
  9. Minat sosial tinggi (selalu ingin berinteraksi dengan orang lain, menolong,…)
  10. Hubungan antar pribadi
  11. Struktur watak demokratis
  12. Perbedaan antara sarana dan tujuan, antara baik dan buruk
  13. Perasaan humor yang tidak menimbulkan permusuhan
  14. Kreativitas
  15. Resistensi (tahan) terhadap inkulturasi (peleburan atau penyesuaian antara 2 atau lebih budaya/ adat yang berbeda).

Hal-hal lain yang terkait dalam masalah pengembangan diri adalah tentang kecerdasan emosi. Konsep lama yang mengatakan bahwa IQ (Intelligent Quotient) adalah faktor yang memegang peranan utama dalam menentukan keberhasilan ternyata runtuh, saat ditemukan bahwa orang-orang yang sukses ternyata tidak ber-IQ tinggi, namun mereka adalah orang-orang yang memiliki EQ (Emotional Quotient) tinggi. Secara singkat, Goleman mengatakan bahwa orang-orang yang memiliki kecerdasan emosi adalah orang yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Mengenal emosi diri                       4. Mengenali emosi orang lain
  2. Mampu mengelola emosi               5. Mampu membina hubungan
  3. Mampu memotivasi diri sendiri

Keadaan motivasi berprestasi yang dimiliki individu dapat dilihat dari pendorong perilakunya, apakah ia digerakkan oleh motivasi intrinsik (internal locus of control) atau oleh motivasi ekstrinsik (external locus of control). Individu dengan motivasi berprestasi tinggi senantiasa memiliki dorongan internal, artinya, pilihan-pilihan yang dilakukannya berdasarkan keinginan dan keyakinan dari dirinya sendiri bukan atas dorongan orang lain. Begitupun sebaliknya. Individu dengan motivasi berprestasi rendah yang hanya digerakkan oleh dorongan eksternal, baru bergerak jika ada orang lain yang menggerakkannya. Kompetisinya demi meraih suatu keberhasilan relatif rendah, tidak percaya diri, dan pesimis menghadapi masa depan.

 

Source : Link

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

three + eight =